Tugas Penilaian Hutan Medan, Oktober 2019
MANFAAT SUKUN DAN SAGU DALAM PEMBUATAN TEPUNG
Dosen
Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Disusun Oleh :
El Winni Elena Sitorus
171201172
MNH 5
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sukun (Artocarpus communis) merupakan tanaman
sejenis nangka, biasanya ditanam sebagai tanaman sela di pekarangan.Tanaman ini
berasal dari daerah New Guenia, Pasifik, yang kemudian berkembang ke Malaysia
hingga Indonesia.Sukun merupakan salah satu jenis tanaman penghijauan karena
dapat tumbuh pada lahan kritis, pohonnya kokoh, tinggi, dan daunnya
rimbun.Pemanfaatan buah sukun sebagai bahan pangan makin penting untuk
menunjang diversifikasi pangan.Indonesia memiliki beberapa varietas sukun lokal
dengan ciri fisik maupun cita rasa buah yang bervariasi.Ciri fisik meliputi
ukuran dan bentuk buah, permukaan kulit (berduri atau tidak), dan banyak
sedikitnya getah. Buah sukun mengandung tepung atau karbohidrat cukup banyak,
yaitu 28,2 g tiap 100 g buah yang sudah tua.Sukun memiliki manfaat bagi
kesehatan karena mengandung senyawa aktif alkaloid dan saponin yang banyak
digunakan dalam pengobatan. Secara empiris, sukun digunakan sebagai obat
penekan asam urat ( Prabawati dan Suismono, 2009).
Sagu (Metroxylon sp.)merupakan sumber
karbohidrat yang cukup penting di Indonesia dan menempati urutan ke 4 setelah
ubikayu, jagung dan ubijalar.Tanaman sagu tersebar dikawasan timur Indonesia
terutama papua, Maluku dan Sulawesi. Sebanyak 50% (1.128 juta ha) tanaman sagu
ini tumbuh di Indonesia dan 90% ( 1.015 juta ha) berkembang di provinsi papua
dan Maluku. Sagu (pati sagu) dimanfaatkan sebagai makanan pokok bagi masyarakat
di kawasan timur Indonesia.Pati sagu diolah dalam bentuk makanan tradisional
seperti papeda, kapurung dan sagu bakar.Namun, semakin lama konsumsi sagu,
semakin hari masyaraktnya semakin meninggalkan sagu dan beralih ke beras. Ada
anggapan bahwa sebagai makanan pokok, sagu berada pada posisi lebih rendah
disbanding beras atau bahan pangan lain terutama terigu ( Lestari, 2009).
Sukun (Astocarpus astilis) yang merupakan
tanaman pohon juga penghasil karbohidrat tetapi belum dikelola secara
intensif dan agak terabaikan oleh masyarakat. Tanaman sukun merupakan tanaman
tahunan yang termasuk ke dalam famili Moraceae.Daerah asalnya adalah Pacifik,
Polynesia, dan Asia Tenggara,termasuk Indonesia. Kanopi pohon sukun sangat
bagus, memiliki warna daunhijau tua dengan sistem perakaran yang kuat, sehingga
dapat berfungsi sebagaipenahan erosi dan pencegah intrusi air laut ke darat di
sekitar pantai. Pada masa lalu sukun dianggap penting bagi kehidupan bangsa Polinesia
yang selalu membawa tanaman tersebut ke perahu mereka dan menanamnya kembali di
tempat mereka tinggal di sekitar kepulauan Pacifik.Di dalam tradisi Hawai,
sukun digunakan sebagai simbol kreativitas dan penggugah kedermawanan.Sekarang
produsen sukun terbesar di dunia adalah Kepulauan Karibia, yang memanfaatkan
sukun sebagai makanan pokok (Supriati, 2010).
TINJAUAN PUSTAKA
Sagu tidak hanya
dapat dimanfaatkan sebagai penganti beras, tetapi juga dapat dimanfaatkan
sebagai olahan makanan seperti mie, roti, dan sirup fruktosa.Dapat pula digunakan
sebagai pakan ternak, perekat, bioetanol dan banyak produk derivatif Iainnya.Pemanfaatan
sagu dapat dilakukan untuk keperluan pangan ataupun untuk keperluan non
pangan.Pemanfaatan sagu untuk pangan salah satunya adalah melalui tepung sagu,
pati, dan berbagai produk olahan pangan.pati atau tepung sagu dan produk
olahannya dapat dikelompokkan juga sebagai pangan fungsional. Dengan kata lain
sagu disamping sebagai salah satu sumber
pangan tradisional potensial, juga
merupakan pangan fungsional yang dapat dikembangkan. Kandungan karbohidrat sagu
lebih tinggi dibandingkan dengan beras dan beberapa pangan sumber karbohidrat
Iainnya.Kandungan kalori sagu tidak jauh berbeda dengan beras dan jagung,
bahkan melebihi kentang, sukun, ubi kayu, ubi jalar, dan yams (gembili dan
uwi/ubi) ( Ekafitri, 2013).
Sukun
atau Artocarpus altilis (Park.)Fosberg
merupakan jenis tanaman serbaguna yang mempunyai nilai ekonomis karena
menghasilkan buah dengan kandungan gizi yang tinggi.Jenis ini potensial untuk dikembangkan
sebagai komoditas penghasil bahan pangan lokal bagi masyarakat.Buah sukun dapat
diolah menjadi bermacam-macam menu makanan, sehingga dapat menunjang ketahanan
pangan dan program diversifikasi pangan yang senantiasa digalakan oleh
pemerintah.Berkurangnya pasokan bahan makanan pokok dan mahalnya harga bahan-bahan
pokok, menjadikan buah sukun sebagai salah satu sumber pangan alternatif yang
sangat berguna( Adinugraha, 2014).
Sagu memiliki potensi
yang paling besar untuk digunakan sebagai pengganti beras.Keuntungan sagu dibandingkan
dengan sumber karbohidrat lainnya adalah tanaman sagu atau hutan sagu sudah
siap dipanen bila diinginkan.Pohon sagu dapat tumbuh dengan baik di rawa-rawa
dan pasang surut, dimana tanaman penghasil karbohidrat lainnya sukar
tumbuh.Kandungan kalori pati sagu setiap 100 gram ternyata tidak kalah
dibandingkan dengan kandungan kalori bahan pangan lainnya. Perbandingan
kandungan kalori berbagai sumber pati adalah (dalam 100 g): jagung 361 Kalori,
beras giling 360 Kalori, ubi kayu 195 Kalori, ubi jalar 143 Kalori dan sagu 353
Kalori.Pohon sagu banyak dijumpai diberbagai daerah di Indonesia, terutama di
Indonesia bagian timur dan masih tumbuh secara liar.Diperkirakan luas areal
tanaman sagu di dunia kurang lebih 2.200.000 ha, 1.128.000 ha diantaranya terdapat
di Indonesia.Jumlah tersebut setara dengan 7.896.000 – 12.972.000 ton pati sagu
kering per tahun.Umumnya teknologi pengolahan pohon sagu menjadi pati sagu, di
Indonesia masih dilakukan secara tradisional dan hanya beberapa daerah seperti
Riau, Jambi dan Sumatra Selatan yang menggunakan cara semi mekanis dalam
mengekstraksi pati sagu.
(Zulhanif, 2006).
(Zulhanif, 2006).
Indonesia memiliki
berbagai jenis tanaman hortikultura, salah satunya adalahtanaman sukun
(Artocarpus altilis).Produksisukun Indonesia pada tahun 2009-2012 relatif
stabil dengan rata-rata 103.554,25 ton per tahun Buah sukun biasanya
dimanfaatkan hanya sebagai makanan camilan saja. Kandungan gizi buah sukun
antara lain mengandung pati (68,38 – 69,20 %), serat kasar (2,11 – 2,90 %),
protein (4,31 -4,85 %), lemak (2,11 – 2,90 %), dan mineral (2,56 – 2,90 %)
sehingga buah sukun berpotensi sebagai bahan pangan sumber karbohidrat. Pengolahan
pangan sumber karbohidrat menjadi berbagai macam produk merupakan usaha untuk
meningkatkan program penganekaragaman pangan, hal ini penting karena sekaligus
dapat meningkatkan nilai ekonomi dan umur simpan produk ( Yuliani, 2012).
Tanaman sagu menyimpan
pati sebagai cadangan pangan di bagian batang. Manfaat pati sagu selama ini
digunakan sebagai makanan pokok dan bagi masyarakat Papua maupun Maluku dengan
nama pepeda. Disamping makanan pokok dari pati sagu dimanfaatkan sebagai
makanan kudapan (cemielan) seperti bagea, ongol-ongol, kue bangkit dan sebagainya.
Produk lain sebagai campuran untuk soto yang dibuat dalam bentuk soun. Tanaman
sagu (Metroxylon sp) banyak dijumpai di daerah rawa dan pinggir sungai di
Indonesia dan terpusat di Papua, Maluku, Sulawesi dan Riau. Sejak lama tanaman sagu
dikenal sebagai makanan bagi masyarakat Papua maupun Maluku ( Hariyanto, 2011).
Sukun adalah buah tropis
dan menghasilkan pohon buah dua kali dalam setahun, dari bulan Maret sampai
Juni dan dari bulan Julisampai September dengan beberapa buah sepanjang
tahun.Sukun telah diproses ke dalam berbagai bentuk pemanfaatan dalam industri
makanan.Ini juga telah diproses menjadi pati dan menjadi tepung. Modifikasi
tepung sukun mendapatkan perlakuan kelembaban panas, sebagai bentuk fisik, secara
kolektifdisebut sebagai pengobatan hidrotermal yang dimaksud modifikasi suhu
dan kadar air. Sedangkan bentuk kimiawi dari beberapa makanan yang dapat
dimakanpati (tepung sukun inklusif) secara spesifik zat pengoksidasi seperti
sodium hipoklorit dan hidrogen peroksida( Adebowale, 2009).










