Minggu, 27 Oktober 2019

Penilaian Hutan


Tugas Penilaian Hutan                                                                                         Medan,   Oktober 2019

MANFAAT SUKUN DAN SAGU DALAM PEMBUATAN TEPUNG

Dosen Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Disusun Oleh :
El Winni Elena Sitorus
171201172
MNH 5




 







PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019



PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sukun (Artocarpus communis) merupakan tanaman sejenis nangka, biasanya ditanam sebagai tanaman sela di pekarangan.Tanaman ini berasal dari daerah New Guenia, Pasifik, yang kemudian berkembang ke Malaysia hingga Indonesia.Sukun merupakan salah satu jenis tanaman penghijauan karena dapat tumbuh pada lahan kritis, pohonnya kokoh, tinggi, dan daunnya rimbun.Pemanfaatan buah sukun sebagai bahan pangan makin penting untuk menunjang diversifikasi pangan.Indonesia memiliki beberapa varietas sukun lokal dengan ciri fisik maupun cita rasa buah yang bervariasi.Ciri fisik meliputi ukuran dan bentuk buah, permukaan kulit (berduri atau tidak), dan banyak sedikitnya getah. Buah sukun mengandung tepung atau karbohidrat cukup banyak, yaitu 28,2 g tiap 100 g buah yang sudah tua.Sukun memiliki manfaat bagi kesehatan karena mengandung senyawa aktif alkaloid dan saponin yang banyak digunakan dalam pengobatan. Secara empiris, sukun digunakan sebagai obat penekan asam urat ( Prabawati dan Suismono, 2009).
Sagu (Metroxylon sp.)merupakan sumber karbohidrat yang cukup penting di Indonesia dan menempati urutan ke 4 setelah ubikayu, jagung dan ubijalar.Tanaman sagu tersebar dikawasan timur Indonesia terutama papua, Maluku dan Sulawesi. Sebanyak 50% (1.128 juta ha) tanaman sagu ini tumbuh di Indonesia dan 90% ( 1.015 juta ha) berkembang di provinsi papua dan Maluku. Sagu (pati sagu) dimanfaatkan sebagai makanan pokok bagi masyarakat di kawasan timur Indonesia.Pati sagu diolah dalam bentuk makanan tradisional seperti papeda, kapurung dan sagu bakar.Namun, semakin lama konsumsi sagu, semakin hari masyaraktnya semakin meninggalkan sagu dan beralih ke beras. Ada anggapan bahwa sebagai makanan pokok, sagu berada pada posisi lebih rendah disbanding beras atau bahan pangan lain terutama terigu ( Lestari, 2009).
Sukun (Astocarpus astilis) yang merupakan tanaman pohon juga penghasil karbohidrat tetapi belum dikelola secara intensif dan agak terabaikan oleh masyarakat. Tanaman sukun merupakan tanaman tahunan yang termasuk ke dalam famili Moraceae.Daerah asalnya adalah Pacifik, Polynesia, dan Asia Tenggara,termasuk Indonesia. Kanopi pohon sukun sangat bagus, memiliki warna daunhijau tua dengan sistem perakaran yang kuat, sehingga dapat berfungsi sebagaipenahan erosi dan pencegah intrusi air laut ke darat di sekitar pantai. Pada masa lalu sukun dianggap penting bagi kehidupan bangsa Polinesia yang selalu membawa tanaman tersebut ke perahu mereka dan menanamnya kembali di tempat mereka tinggal di sekitar kepulauan Pacifik.Di dalam tradisi Hawai, sukun digunakan sebagai simbol kreativitas dan penggugah kedermawanan.Sekarang produsen sukun terbesar di dunia adalah Kepulauan Karibia, yang memanfaatkan sukun sebagai makanan pokok (Supriati, 2010).


TINJAUAN PUSTAKA
          Sagu tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai penganti beras, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai olahan makanan seperti mie, roti, dan sirup fruktosa.Dapat pula digunakan sebagai pakan ternak, perekat, bioetanol dan banyak produk derivatif Iainnya.Pemanfaatan sagu dapat dilakukan untuk keperluan pangan ataupun untuk keperluan non pangan.Pemanfaatan sagu untuk pangan salah satunya adalah melalui tepung sagu, pati, dan berbagai produk olahan pangan.pati atau tepung sagu dan produk olahannya dapat dikelompokkan juga sebagai pangan fungsional. Dengan kata lain sagu disamping sebagai salah satu sumber
pangan tradisional potensial, juga merupakan pangan fungsional yang dapat dikembangkan. Kandungan karbohidrat sagu lebih tinggi dibandingkan dengan beras dan beberapa pangan sumber karbohidrat Iainnya.Kandungan kalori sagu tidak jauh berbeda dengan beras dan jagung, bahkan melebihi kentang, sukun, ubi kayu, ubi jalar, dan yams (gembili dan uwi/ubi) ( Ekafitri, 2013).
            Sukun atau Artocarpus altilis (Park.)Fosberg merupakan jenis tanaman serbaguna yang mempunyai nilai ekonomis karena menghasilkan buah dengan kandungan gizi yang tinggi.Jenis ini potensial untuk dikembangkan sebagai komoditas penghasil bahan pangan lokal bagi masyarakat.Buah sukun dapat diolah menjadi bermacam-macam menu makanan, sehingga dapat menunjang ketahanan pangan dan program diversifikasi pangan yang senantiasa digalakan oleh pemerintah.Berkurangnya pasokan bahan makanan pokok dan mahalnya harga bahan-bahan pokok, menjadikan buah sukun sebagai salah satu sumber pangan alternatif yang sangat berguna( Adinugraha, 2014).
Sagu memiliki potensi yang paling besar untuk digunakan sebagai pengganti beras.Keuntungan sagu dibandingkan dengan sumber karbohidrat lainnya adalah tanaman sagu atau hutan sagu sudah siap dipanen bila diinginkan.Pohon sagu dapat tumbuh dengan baik di rawa-rawa dan pasang surut, dimana tanaman penghasil karbohidrat lainnya sukar tumbuh.Kandungan kalori pati sagu setiap 100 gram ternyata tidak kalah dibandingkan dengan kandungan kalori bahan pangan lainnya. Perbandingan kandungan kalori berbagai sumber pati adalah (dalam 100 g): jagung 361 Kalori, beras giling 360 Kalori, ubi kayu 195 Kalori, ubi jalar 143 Kalori dan sagu 353 Kalori.Pohon sagu banyak dijumpai diberbagai daerah di Indonesia, terutama di Indonesia bagian timur dan masih tumbuh secara liar.Diperkirakan luas areal tanaman sagu di dunia kurang lebih 2.200.000 ha, 1.128.000 ha diantaranya terdapat di Indonesia.Jumlah tersebut setara dengan 7.896.000 – 12.972.000 ton pati sagu kering per tahun.Umumnya teknologi pengolahan pohon sagu menjadi pati sagu, di Indonesia masih dilakukan secara tradisional dan hanya beberapa daerah seperti Riau, Jambi dan Sumatra Selatan yang menggunakan cara semi mekanis dalam mengekstraksi pati sagu.
(Zulhanif, 2006).
Indonesia memiliki berbagai jenis tanaman hortikultura, salah satunya adalahtanaman sukun (Artocarpus altilis).Produksisukun Indonesia pada tahun 2009-2012 relatif stabil dengan rata-rata 103.554,25 ton per tahun Buah sukun biasanya dimanfaatkan hanya sebagai makanan camilan saja. Kandungan gizi buah sukun antara lain mengandung pati (68,38 – 69,20 %), serat kasar (2,11 – 2,90 %), protein (4,31 -4,85 %), lemak (2,11 – 2,90 %), dan mineral (2,56 – 2,90 %) sehingga buah sukun berpotensi sebagai bahan pangan sumber karbohidrat. Pengolahan pangan sumber karbohidrat menjadi berbagai macam produk merupakan usaha untuk meningkatkan program penganekaragaman pangan, hal ini penting karena sekaligus dapat meningkatkan nilai ekonomi dan umur simpan produk ( Yuliani, 2012).
Tanaman sagu menyimpan pati sebagai cadangan pangan di bagian batang. Manfaat pati sagu selama ini digunakan sebagai makanan pokok dan bagi masyarakat Papua maupun Maluku dengan nama pepeda. Disamping makanan pokok dari pati sagu dimanfaatkan sebagai makanan kudapan (cemielan) seperti bagea, ongol-ongol, kue bangkit dan sebagainya. Produk lain sebagai campuran untuk soto yang dibuat dalam bentuk soun. Tanaman sagu (Metroxylon sp) banyak dijumpai di daerah rawa dan pinggir sungai di Indonesia dan terpusat di Papua, Maluku, Sulawesi dan Riau. Sejak lama tanaman sagu dikenal sebagai makanan bagi masyarakat Papua maupun Maluku ( Hariyanto, 2011).
Sukun adalah buah tropis dan menghasilkan pohon buah dua kali dalam setahun, dari bulan Maret sampai Juni dan dari bulan Julisampai September dengan beberapa buah sepanjang tahun.Sukun telah diproses ke dalam berbagai bentuk pemanfaatan dalam industri makanan.Ini juga telah diproses menjadi pati dan menjadi tepung. Modifikasi tepung sukun mendapatkan perlakuan kelembaban panas, sebagai bentuk fisik, secara kolektifdisebut sebagai pengobatan hidrotermal yang dimaksud modifikasi suhu dan kadar air. Sedangkan bentuk kimiawi dari beberapa makanan yang dapat dimakanpati (tepung sukun inklusif) secara spesifik zat pengoksidasi seperti sodium hipoklorit dan hidrogen peroksida( Adebowale, 2009).







Share:

10 komentar:

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.